SUKA BERANGAN-ANGAN

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah saw, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Wa Ba’du:

Allah telah mengecam suatu kaum yang terlalu berangan-angan yang panjang sehingga melalaikan mereka dari beramal untk hari akhirat sehingga ajal mereka datang secara tiba-tiba sementara mereka tenggelam dalam kelalaian. Akhirnya mereka berangan-angan seandainya umur mereka dipanjangkan agar bisa berbuat kebaikan mengejar ketertinggalan mereka namun hal itu sangat mustahil terjadi. Firman Allah Ta'ala:

2.  Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. 3.  Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), Maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).Panjang angan angan adalah keinginan yang keras kepada dunia secara berkesinambungan dan terus terjun padanya yang dibarengi dengan berpaling dari kepentingan akhirat.

Rasulullah saw telah mengabarkan bahwa banyak kaum yang berangan-angan yang panjang sehingga melebihi batas ajal mereka.
Dari Buraidah ra berkata: Nabi saw telah membuat sebuah garis di hadapan kami lalu beliau berkata: Ini adalah angan-angan dan ini adalah ajalnya, pada saat dia tenggelam dalam angan-angannya akhirnya ajalnya menjemputnya". 
Dan hal yang sungguh menakjubkan bagi anak Adam adalah setiap kali ajalnya mendekat angan-angannyapun semakin memanjang, keinginannya semakain menambah dan ingin dengan keduniaan dan tidak ada seorangpun yang bisa selamat darinya kecali orang yang selamatkan oleh Allah, dan jmlah mereka sangat sedikit.
Dari Abi Hurairah ra berkata: Aku telah mendengar Nabi saw bersabda: Akan senantiasa hati orang yang tua menjadi muda dalam dua perkara: cinta dunia dan dan panjang angan-angan dengan dunia".

Sebagaian besar makhluk ini tidak bisa terlepas dari kekangan panjang angan-angan, kalaulah bukan karena angan-angan maka seseorang tidak akan bisa menikmati kehidpan dunia selamanya. Seorang penyair berkata:

Aku mencela jiwa ini karena angan-angan yang selalu aku intai
Alangkah sempitnya hidup ini tanpa dibarengi luasnya angan-angan

Ibnu Hajar berkata: Di dalam angan-angan itu tersimpan rahasia yang sangat indah, sebab tanpa angan-angan maka seseorang tidak merasakan kenikmatan di dalam hidup ini, jiwanya tidak tentram dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan dunianya, namun yang tercela adalah membiarkannya melewati batas dan tidak mempersiapkan diri untuk akhirat, maka barangsiapa yang selamat darinya tidak dibebankan untuk menghilangkanya secara keseluruhan.
Maka orang yang berakal adalah oarng yang tidak terbawa oleh angan-angannya yang panjang dan tidak pula melupakan kenikmatan yang telah dijanjikan oleh Allah bagi setiap jiwa yang hidup. FirmanAllah Ta'ala:

185.  Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia Telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.Dari Abdullah bin Umar ra dia berkata: Rasulullah saw memgang pundakku dan berkata: Jadilah engka di dunia ini seaka-akan orang asing dan sedang melewati perjalanan. Dan Ibnu Umar berakta: Apabila engkau berada pada waktu pagi maka janganlah menunggu waktu sore dan apabila engkau berada di waktu sore maka janganlah mennggu waktu pagi, dan mamfaatkanlah waktu sehatmu untuk waktu sakitmu, dan mamfaatkanlah hidupmu untuk kematianmu". Imam Tirmidzi menambahkan:  Dan anggpalah dirimu sebagai penghuni kubur, sesungguhnya wahai Abdullah engkau tidak mengetahui apakah namamu pada keesokan harinya.
Ibnu Rajab berkata: Hadits ini adalah dasar yang agung dalam pembahasan tentang memendekkan angan-angan duniawi sebab tidak pantas bagi seiorang yang beriman menjadikan dunia ini sebagai tempat kampong halaman dan tempat tinggal, akan tetapi keadaan yang seharusnya adalah dia sekan-akan sedang berada dalam sebuah perjalanan yang sedang mempersiapkan kendaraannnya untuk segera berangkat.
Seorang lelaki memaski rmah Abu Dzar lalu dia mengamati rumah dan seisinya. Maka lelaki tersebut berakta: Wahai Abu Dzar di manakah barang-barang kalian?.  Lalu Abu Zar menjawab: Sesungguhnya kita memiliki rumah yang senantiasa kita kejar. Lalu lelaki itu berkata: Akan tetapi engkau tetapa membutuhkan perbekalan selama kita hidup di sini. Maka Ab Zar berkata: Sesungguhnya tuan trumah tidaka akan pernah meninggalkan kita padanya.
Dari Al-Hasan menceritakan pada saat Salman sedang dijemput kematian diapun menangis dan berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw telah mengikat kita dengan sebuah janji namun kita telah meninggalkan janji kita tersebut bahwa bekal salah seorang di antara kita pada saat dia berada di dunia seperti perbekalan seorang yang sedang mengadakan perjalanan. Dan al-Hasan berkata: kemudian kami melihat harta yang ditinggalkannya setelah kematiannya, maka jumlah apa ayng ditinggalkannya duapuluhan dirham atau tigapuluhan dirham.
Maka hendaklah bagi orang yang berakal untuk memanfaatkan masa hidupnya, sebab dia tidak  mengetahui kalau jatahnya tinggal sedikit. Ibnul Qoyyim rahimhullah berkata: Apa yang berlalu dari dunia ini adalah impian dan apa yang akan datang adalah angan-angan sementara waktu berlalu di antara keduanya dengan sia-sia".
Panjang angan-angan akan melahirkan kemalasan dalam taat kepada Allah, mengulur-ulur waktu untuk bertaubat, cendrung dengan dunia, melupakan akhirat, hati menjadi keras, sebab hati menjadi lunak dan bersih dengan mengingat kematian, alam kubr, pahala dan siksa serta kedahsyatan hari kiamat, firman Allah Ta'ala: 

16.  Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Oleh karena itulah Ali ra berkata: Sesungguhnya perkara yang paling aku takutkan terhadap kalian adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun mengikuti hawa nafsu maka hal itu bisa memalingkan seseorang dari kebenaran dan panjang angan-angan akan membuat seseorang lupa dengan akhirat, duania pergi menjauh sementara akhirat datang menjmput maka jadilah kalian sebagai orang yang cinta akhirat dan janganlah menjadi budak dunia, sesungguhnya hari ini adalah kesempatan untuk beramal dan bkan untuk dihisab dan diakherat kelak adalah hari untuk dihisab bukan untuk beramal

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad dan kepada seluruh keluarga dan shahabatya.

Sumber : http://www.islamhouse.com/

Optimisme Dan Berbaik Sangka Kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla

Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam . Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba'du: 

Sesungguhnya sikap optimis dan berbaik sangka kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla merupakan perkara yang layak menjadi perhatian khusus bagi seorang mukmin yang harus terus dirawat dan dijaga. Karena cara bersikap semacam itu akan membantu dirinya untuk terus berkarya dan meraih kesuksesan yang ada dihadapannya. Seseorang yang optimis dirinya akan mempunyai harapan tinggi untuk meraih masa depan indah yang lebih baik dari keadaanya sekarang. Dengan berusaha keras mengganti kerugian yang pernah dialami, dan melewati masa-masa sulit yang menimpanya. Demi tercapainya cita-cita, perbaikan serta kesuksesan yang belum bisa direngkuh pada hari ini.

Imam al-Marwadi menjelaskan, "Optimisme akan menguatkan kemauan, melahirkan kekuatan, dan mendorong untuk memperoleh apa yang diinginkan. Dimana Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga begitu optimis didalam ekspedisi maupun peperangannya. Dan yang dimaksud dengan optimis ialah seorang mukmin berlapang dada, berprasangka baik serta mengharapkan bernasib baik".

Ulama lain yang bernama Ibnu Atsir menjelaskan pula, "Optimisme gambarannya seperti seseorang yang sedang sakit lalu dirinya mengharapkan bernasib baik dengan ucapan orang yang dia dengar mengatakan, 'Hai, Salim'. Atau seseorang yang sedang kesulitan mencari barang hilang, lalu mendengar orang menyeru, 'Hai, orang yang mendapatkan'. Lantas tersirat dalam benaknya kalau dirinya akan segera sembuh dari sakitnya, dan akan segera menemukan barang yang hilang (karena mendengar ucapan-ucapan tadi)". Lihat, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah diisolir, disakiti bahkan dikeluarkan dari negerinya, kekasihnya terbunuh, enam putranya meninggal dunia, namun, dengan itu semua beliau tetap optimis, sehingga disebutkan beliau menyukai nama yang bagus mengharap dengan nama tersebut berakibat baik pada pemiliknya. 

Dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, "Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ الصَّالِحُ الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ» [أخرجه البخاري و مسلم]
"Sangat menakjubkan diriku pengharapan nasib baik dari sebuah ucapan yang bagus". HR Bukhari no: 5756. Muslim no: 2224.

Dibawakan oleh Imam Ahmad sebuah hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau menceritakan:
« كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَفَاءَلُ وَلَا يَتَطَيَّرُ وَيُعْجِبُهُ الِاسْمُ الْحَسَنُ » [أخرجه أحمد]
"Adalah Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengharap bernasib baik namun beliau tidak sampai meramalkannya. Dan beliau sangat suka dengan nama yang bagus". HR Ahmad 4/169 no: 2328.

Ada sebuah kisah yang dibawakan oleh Imam Bukhari dari Sa'id bin Musayib beliau menceritakan kepadaku bahwa kakeknya yang bernama Hazna (sedih) pernah berkunjung kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ketika bertemu beliau bertanya, "Siapa namamu? Hazna, jawabnya. Beliau bersabda, "Bagaimana kalau kamu ganti namamu menjadi Sahl (mudah)? Dia berkata, "Aku tidak mau merubah nama pemberian orang tuaku". Ibnu Musayib menjelaskan, "Dan kakekku tadi setelah itu, betul-betul selalu dalam kesedihan". HR Bukhari no: 6193.

Sebuah kisah lagi, tepatnya tatkala terjadi perjanjian Hudaibiyah. Manakala Suhail bin Amr datang menemui Nabi sebagai utusan orang kafir, maka tatkala Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya beliau berkata pada para sahabatnya, "Dia telah memudahkan urusan kalian". HR Bukhari no: 2731, 2732. Beliau merasa bernasib baik dengan kedatanganya karena namanya Suhail (mudah).

Sahabat Ibnu Abbas menjelaskan, "Perbedaan antara tafa'ul (optimis) dan thiyarah (meramal). Kalau tafa'ul itu melalui jalan prasangka baik pada Allah Shubhanahu wa ta’alla, sedang thiyarah tidaklah digunakan melainkan dalam keburukan". Oleh karenanya yang terakhir ini dilarang.  Imam al-Hulaimi mengatakan, "Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam sangat suka dengan sikap optimis, dikarenakan tasya'um (pesimis) merupakan prasangka buruk kepada Allah ta'ala. Sedang tafa'ul itu berprasangka baik kepada         -Nya. Dan seorang mukmin diperintah agar senantiasa berprasangka baik kepada Allah ta'ala pada tiap keadaan".

Al-Baghawi menerangkan, "Kenapa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menyukai sikap optimis karena didalamnya terkandung pengharapan pada kebaikan serta manfaat yang ada dibaliknya. Sedang berharap memperoleh kebaikan itu lebih utama bagi seseorang dari pada pesimis dan menganggap sudah putus harapannya".  Dan tafa'ul (optimisme) ialah dengan berprasangka baik kepada -Nya. Dan seorang mukmin diperintah agar senantiasa berprasangka baik kepada Allah ta'ala pada tiap keadaan. Dimana Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah membimbing umatnya agar selalu memiliki prasangka baik kepada Allah azza wa jalla.

Dijelaskan dalam hadits Qudsi yang dibawakan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي إِن ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ » [أخرجه أحمد]
"Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta'ala berfirman, "Aku sesuai dengan prasangka yang ada pada hamba -Ku, jika dirinya berprasangka baik maka (balasannya) semacam itu, dan jika dirinya berprasangka buruk (balasannya) juga serupa". HR Ahmad no: 9076.

Bahkan prasangka baik itu ditegaskan harus selalu menyertai seseorang hingga menjelang ajal. Dijelaskan dalam sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Muslim dari Jabir radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, "Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ » [أخرجه مسلم]
"Janganlah kalian meninggal dunia melainkan dirinya tetap berprasangka baik kepada Allah azza wa jalla". HR Muslim no: 2877.

Para ulama menjelaskan, "Yang dimaksud dengan berbaik sangka kepada Allah Shhubhanahu wa ta’alla ialah dirinya selalu berbaik sangka pada -Nya bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla akan memberi rahmat dan mengampuninya". 

Bila kita perhatikan kisah perjalanan para Rasul  'alaihim sallam, dan orang-orang shaleh yang datang sesudahnya, kita jumpai mereka adalah orang-orang yang punya optimisme tinggi ketika menghadapi tiap pergolakan hidup baik musibah atau pun kesulitan. Lihatlah, pada kisahnya nabi Musa bersama kaumnya manakala mereka terjebak dalam kejaran Fir'aun dengan bala tentaranya dan lautan luas menghadang dihadapannya sedang musuh berada dibelakangnya. Akan tetapi beliau sangat optimis dan selalu berbaik sangka kepada Rabbnya. Sehingga Allah Shubhanahu wa ta’alla mengabadikan kisahnya dalam al-Qur'an:
﴿ فَلَمَّا تَرَٰٓءَا ٱلۡجَمۡعَانِ قَالَ أَصۡحَٰبُ مُوسَىٰٓ إِنَّا لَمُدۡرَكُونَ ٦١ قَالَ كَلَّآۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهۡدِينِ ٦٢﴾ [ الشعراء: 61-62]
"Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul". Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku". (QS asy-Syu'araa: 61-62).

Kisah lain, Ummu Isma'il Hajar ketika ditinggal oleh suaminya Ibrahim di negeri tandus yang tidak berpenghuni bersama anaknya Isma'il, negeri Makkah yang kondisinya pada saat itu belum ada orang, dan tidak ada mata air yang bisa diminum, lantas suaminya Ibrahim meninggalkan mereka berdua disana. Dirinya cuma meninggalkan kantong yang berisi air dan kurma disisi istri dan anaknya, kemudian beliau bertolak pergi meninggalkan keduanya, melihat hal itu maka Ummu Isma'il berdiri mengejarnya sembari bertanya, "Wahai Ibrahim, kemana engkau hendak pergi, apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tidak bertuan ini? Dirinya bertanya seperti itu berulang-ulang, namun suaminya tidak menoleh sedikitpun. Maka diakhir pertanyaanya dia bertanya, "Apakah Allah Shubhanahu wa ta’alla yang menyuruhmu hal ini? Beliau baru menjawab, "Ya". Kalau demikian pasti Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak akan menyia-yiakan kami, katanya. HR Bukhari no: 3364.

Tidak ketinggalan juga, Ummul mukminin Khadijah bin Khuwailid radhiyallahu 'anha, tatkala turun wahyu pada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ketika itu suaminya pulang ke rumah dalam keadaan ketakutan sembari berkata, "Selimuti aku, selimuti aku, sungguh aku sangat khawatir akan keselamatanku". Maka dengan tegas istrinya menenangkan, "Sekali-kali tidak akan demikian! Demi Allah, -Dia tidak akan menghinakanmu selamanya. Sungguh engkau penyambung tali kerabat, pemikul beban orang lain yang mendapat kesusahan, pemberi orang papa, penjamu tamu, serta pendukung setiap upaya penegakan kebenaran". HR Bukhari no: 3.

Dan Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam beliau adalah orang yang paling tinggi optimisnya serta berbaik sangkanya kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla. Diriwayatkan oleh Imam Muslim sebuah kisah dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwasannya beliau  bercerita pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, "Apakah engkau pernah menghadapi suatu hari yang lebih berat daripada perang uhud? Beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِى عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلاَلٍ فَلَمْ يُجِبْنِى إِلَى مَا أَرَدْتُ فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِى فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلاَّ بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ فَرَفَعْتُ رَأْسِى فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِى فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ فَنَادَانِى فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ قَالَ فَنَادَانِى مَلَكُ الْجِبَالِ وَسَلَّمَ عَلَىَّ. ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَأَنَا مَلَكُ الْجِبَالِ وَقَدْ بَعَثَنِى رَبُّكَ إِلَيْكَ لِتَأْمُرَنِى بِأَمْرِكَ فَمَا شِئْتَ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمُ الأَخْشَبَيْنِ. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلاَبِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا » [أخرجه مسلم]
"Aku pernah mendapatkan perlakuan kasar dari kaummu, tetapi perlakuan mereka yang paling berat yang aku rasakan adalah pada waktu di Aqabah ketika aku menawarkan diriku pada Ibnu Abd Yalail bin Abd Kallal tetapi dia tidak menanggapi apa yang aku inginkan sehingga aku beranjak dari sisinya dalam keadaan sedih. Aku tidak lagi menyadari apa yang terjadi kecuali setelah dekat dengan tempat yang bernama Qarn ats-Tsa'alib. Waktu aku mengangkat kepalaku tiba-tiba datang segumpal awan menaungiku, lalu aku melihat ke arahnya dan ternyata di sana ada Jibril yang memanggilku.

Dia berkata, "Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan tanggapan mereka terhadapmu. Allah telah mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan kepadanya sesuai keinginanmu terhadap mereka".

Malaikat penjaga gunung tersebut memanggilku dan memberi salam kepadaku, kemudian berkata, "Wahai Muhammad, Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan tanggapan mereka terhadapmu. Aku adalah malaikat penjaga gunung yang Allah utus untuk engkau perintahkan sesuai keinginanmu terhadap mereka. Jika engkau menghendaki aku meratakan mereka dengan al-Akhasyabain (dua gunung besar diMakah) maka akan aku lakukan".

Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, "Bahkan aku berharap kelak Allah memunculkan dari tulang punggung mereka suatu kaum yang menyembah Allah ta'ala semata, dan tidak menyekutukan -Nya dengan sesuatupun". HR Muslim no: 1795.

Didalam shahih Bukhari dikisahkan dari Aisyah tentang ayahnya, beliau menceritakan, "Tatkala Abu Bakar berada ditengah-tengah Ibnu ad-Daghinah yang memberi perlindungan padanya, beliau membuat masjid di halaman rumahnya. Lalu secara terang-terangan beliau kerjakan sholat dan membaca al-Qur'an di sana, maka hal itu membikin geram orang Quraisy sehingga mereka berusaha mempengaruhi Ibnu ad-Daghinah supaya Abu Bakar tidak melakukan hal itu lagi. Mereka berkata, "Kami takut suaranya akan memfitnah anak-anak dan para wanita kami". 

Lalu Ibnu ad-Daghinah beranjak pergi pada Abu Bakar kemudian berkata, "Silahkan engkau tidak mengerjakan urusanmu lagi atau engkau memilih tetap berada disampingku. Sungguh aku tidak enak kalau penduduk kota ini membicarakan diriku yang telah membuat lari sahabatku yang telah aku lindungi". 

Abu bakar menjawab, "Aku lebih suka pergi meninggalkanmu dan memilih berada disisi Allah azza wa jalla". HR Bukhari no: 3905.

Diantara kisah yang dinukil pada kita yang menjelaskan tentang optimisme ialah peristiwa yang terjadi pada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Dikisahkan, pada tahun 702 H, tentara Tatar memobilisasi pasukanya untuk menyerang negeri Syam, mendengar itu Ibnu Taimiyah mengabarkan pada manusia dan penguasa bahwa bencana dan kekalahan akan musuh rasakan, sedang kemenangan akan diperoleh oleh kaum muslimin. Ucapannya tersebut beliau barengi dengan sumpah kepada Allah sebanyak tujuh puluh kali. Maka ada yang mengingatkan beliau, "Katakanlah insya Allah". Beliaupun berkata, "Insya Allah, pasti akan terjadi tidak aku ragukan sedikitpun".

Ibnu Qoyim menuturkan, "Aku mendengar beliau mengucapkan hal itu, manakala banyak orang-orang yang membicarakan ucapan beliau, maka aku katakan pada mereka, "Kalian jangan banyak menyoal ucapan beliau, catatan Allah Shubhanahu wa ta’a’alla telah tetap di Lauh Mahfud kalau mereka akan kalah di negeri ini. Dan kemenangan bagi pasukan kaum muslimin. Beliau melanjutkan, "Maka sebagian pemimpin dan pasukan sudah bisa merasakan manisnya kemenangan sebelum kepergin mereka bertarung bersama tentara musuh. Maka benar kemenangan diraih oleh kaum muslimin. Allah ta'ala menyatakan dalam firman -Nya:

﴿ أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ ٢١٤ ﴾ [ البقرة: 214]
"Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat". (QS al-Baqarah: 214).

Allah ta'ala juga mengatakan:

﴿ وَكَانَ حَقًّا عَلَيۡنَا نَصۡرُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٤٧  ﴾ [ الروم: 47]
"Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman". (QS ar-Ruum: 47).

Diantara kisah lain yang menerangkan hal itu juga, bahwa Syaikh Syamsudin yang menjadi punggawa, ditugaskan untuk mendidik Sulthan Muhammad Fatih al-Utsmani kecil. Dikisahkan, beliau pernah membawa Sulthan Muhamamd yang masih kecil ketika itu berjalan-jalan di tepi pantai, sambil menggandeng tangannya, kemudian disana beliau menunjuk pada bangunan kostantinopel yang nampak jelas dari kejauhan menjulang tinggi diantara benteng-bentengnya. Setelah itu beliau berkata pada sang Sulthan, "Apakah baginda melihat kota itu yang bangunannya menjulang tinggi dilangit, itu adalah Kostantinopel, sungguh telah mengabarkan pada kita Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa akan ada seseorang dari kalangan umatnya yang akan menaklukan mereka dengan bala tentaranya lalu menyatukan mereka didalam panji tauhid. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Sungguh Kostantinopel pasti akan dapat ditaklukan, dan sebaik-baik pemimpin pada saat itu ialah yang memimpin pasukan ke sana, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan tersebut". 

Mendengar hal itu maka sang Sulthan kecil merasa optimis dan bertekad dengan mengumpulkan segalanya untuk menjadi orang yang mampu menaklukan negeri tersebut, dan menjadi orang yang dikabarkan dalam hadits yang mendapat kabar gembira dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Manakala datang waktunya, dan dirinya telah diangkat menjadi Khalifah maka dirinya bergegas untuk mengadakan perundingan dengan pembesar Kostantinopel supaya mereka menyerah tanpa bersyarat. Ketika benar hal itu dilakukan, mereka langsung menolaknya, tidak rela menyerahkan kota mereka kepada kaum muslimin.

Maka Muhammad Fatih sang khalifah dengan penuh optimis berkata, "Baik, tidak lama lagi disana ada dua pilihan untukku, aku memiliki singgasananya atau lahat untuk jenazahku". Kemudian khalifah Muhammad al-Fatih mengepung Kostantinopel selama lima puluh satu hari. Selang waktu itu sesekali terjadi beberapa pertempuran yang sangat sengit sampai akhirnya kota benteng tersebut yang dulunya enggan untuk tunduk, berhasil jatuh ditangan sang pemuda pemberani yang  usianya pada saat itu baru dua puluh tiga tahun. 

Diantara kisah lain, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Muqri Abdullah bin Ahmad bin Sa'id, beliau mengatakan, "Aku pernah sakit keras, dulu ketika di Damaskus. Maka Ibnu Taimiyah datang menjengukku, lalu beliau duduk di sampingku, sedang kondisiku saat itu sangat berat menahan sakit, beliau lantas mendo'akan diriku lalu berkata, "Akan datang kesembuhan'. Tidak selang sampai berdiri, tiba-tiba kesembuhan menyapaku, seketika itu aku diberi kesembuhan". 

Faidah sikap optimis dan baik sangka kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla:

Pertama: Membawa kebahagian dan kesenangan di dalam hati. Sebaliknya akan menghilangkan kesedihan dan kegundahan. Dan semua perkara ini diajarkan oleh agama kita. 
Dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, "Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ » [أخرجه البخاري]
"Ya Allah, aku berlindung kepada -Mu dari kegundahan dalam hati dan kesedihan". HR Bukhari no: 2893.

Kedua: Dengannya akan menguatkan kemauan, mendorong meraih cita-cita dan menumbuhkan kesungguhan dalam berkarya. Allah Shubhanahu wa ta'ala berfirman:

﴿ وَقُلِ ٱعۡمَلُواْ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمۡ وَرَسُولُهُۥ ١٠٥﴾ [ التوبة: 105]
"Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul -Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu". (QS at-Taubah: 105).

Dibawakan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, "Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ » [أخرجه مسلم]
"Mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah dari pada mukmin yang lemah. Dan pada keduanya ada kebaikan. Berusahalah untuk mencari apa yang memberi manfaat padamu, lalu mintalah tolong kepada Allah jangan loyo. Dan jika engkau terkena musibah jangan berkata, 'Kalau seandainya aku begitu tentu tidak akan begini'. Namun, katakan, "Apa yang Allah takdirkan pasti terjadi. Sesungguhnya ucapan 'seandainya' akan membuka tipu daya setan". HR Muslim no: 2664. 

Ketiga: Mengikuti sunah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dimana beliau sangat menganjurkan untuk bersikap optimis.
Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

Sumber : http://www.islamhouse.com/

Etos Kerja Orang Cina

Cina telah dikenal luas sebagai negara super power masa depan dalam perekonomian dunia. Perekonomian Cina menempati posisi kedua dilihat dari nilai Gross domestic product setelah Amerika Serikat[1]. Cina juga merupakan negara dengan jumlah ekspor terbesar di dunia[2].

Kita lihat sendiri di negeri kita, orang Cina dikenal sebagai orang yang pandai berbisnis dan berdagang. Hampir semua lini industri mereka masuki dan banyak yang memegang peran-peran penting di sana. Jarang sekali kita temukan orang Cina di negeri kita menjadi 'jongos', kebanyakan mereka menjadi bos walau kecil-kecilan. Kira-kira apa rahasia mereka?

Jika berbicara mengenai rahasia kemahiran bisnis orang Cina, maka tentu saya belum banyak tahu. Namun saya sekedar ingin sharing pengalaman berkunjung dan bekerja di negeri tirai bambu tersebut. Perusahaan IT tempat saya bekerja dipercayai untuk menangani sebuah proyek IT oleh Petrochina. Maka saya dan tim pun berangkat ke kota Xi'an, propinsi Shaanxi, untuk tugas tersebut. Selama mengerjakan proyek di sana saya merasakan sendiri suasana bekerja yang berbeda dengan di tanah air, selain perbedaan cuaca juga yang cukup mencolok.

Dihari-hari pertama bekerja di sana, saya masih kikuk menyesuaikan diri. Pasalnya pukul 07.30 pagi saya dan tim sudah dijemput oleh jemputan khusus dari kantor. Jangan anda bayangkan pukul 07.30 di sana seperti suasana pukul 07.30 di Jakarta. Saat itu masih gelap, langit masih hitam dengan sedikit keputih-putihan. Itu wajar saja karena shalat subuh pun pukul 06.30. Perlu digaris-bawahi bahwa Cina menerapkan sistem satu zona waktu, jadi memang wajar di sebagian ada ketidak-sesuaian antara jam biologis dan jam matahari.

Perjalanan dari hotel ke kantor butuh waktu kurang lebih setengah jam. Saya dan tim pun sampai di kantor Petrochina sekitar pukul 8 dan itu pun masih agak gelap, belum terlihat matahari. And guess what, pegawai kantor sudah mulai bekerja ketika itu walau belum kumpul semua.

Pukul 12.00 waktunya istirahat, sebagian besar pegawai keluar untuk makan siang dan kembali pada pukul 13.00. Sebagian kecil ada yang masih terlihat di ruang rapat dan ada juga yang memilih tidur siang di meja kerjanya. Saya dan tim pun ketika itu memilih tinggal di kantor karena belum tahu warung makanan halal di sekitar kantor. Terpaksa, nyeduh mi instan yang kami bawa dari tanah air. Hingga pukul 16.00 pun datang, bagi saya dan tim, ini sudah waktunya pulang. Namun supervisor kami dan pegawai yang lain tidak ada tanda-tanda ingin menyudahi pekerjaannya. Kami yang agak lelah. lapar (karena cuma makan mi instan) dan merasa sudah berhak pulang pun merasa galau, karena belum ada info jemputan pulang dan pegawai lain masih asyik bekerja. Walau agak sungkan saya pun tanya kepada supervisor kami yang orang Prancis. Ternyata jemputan pulang sudah dijadwalkan pukul 17.30 setiap harinya. Wow. Ternyata masih satu setengah jam lagi. Apa boleh buat, saya kembali bekerja sambil agak galau menunggu pukul 17.30.

Hingga akhirnya 17.30 tiba, waktunya pulang. Namun timbul lagi rasa sungkan, karena rata-rata para pegawai yang lain masih asyik-masyuk bekerja. Orang Indonesia jam segini sudah santai di rumah, pikir saya. Tapi kami tetap pulang karena khawatir sang supir jemputan kelamaan menunggu. Tapi pernah juga kami bekerja agak berat sampai pulang agak telat, pukul 18.00 lebih. Dan ternyata pukul segitu lah rata-rata para pegawai di sana mulai berpulangan. Dan perlu diketahui ketika itu langit sudah gelap. Datang ketika masih gelap, pulang ketika sudah gelap. Jadi, kalau kita hitung, mereka bekerja sejak 08.00 hingga 18.00, sekurang-kurangnya 10 jam sehari! Kalau di Indonesia ini sudah kadar workaholic.

Ya, itulah satu hal yang paling saya rasakan dari orang-orang Cina selama saya bekerja di sana, yaitu etos kerja mereka yang tinggi. Mereka juga bekerja dengan serius, dan tidak bermalas-malasan. Ini mungkin satu dari sekian hal yang jadi resep suksesnya Cina menjadi negara adidaya yang menyaingi negara-negara Eropa dan Amerika.

Bagi umat Islam sendiri, sesungguhnya etos kerja dan produktifitas yang tinggi serta anjuran mengotimalkan waktu sebaik mungkin, sering ditekankan oleh Allah dan Rasullah Shallahu'alaihi Wasallam. Bahkan produktifitas bagi seorang Muslim bukan hanya sekedar dalam mencari dunia semata, bahkan ketika waktu dan energi dicurahkan untuk meraih akhirat pun itu terhitung produktif.

Semoga sharing yang sedikit ini bermanfaat.

Ditulis oleh Yulian Purnama, S.Kom,

Sumber : http://pengusahamuslim.com/

Berhenti Merokok Gara-Gara Anaknya Mati



Ada kisah yang mengharukan karena rokok bisa sampai membunuh anak yang berusia 1 tahun.
Gak percaya?


Nih ada kisah:

Gua mantan perokok berat selama 18 tahun.

Gimana gua bisa berhenti merokok 1 tahun ini?
Bisa dibilang memalukan, bisa dibilang dapat hidayah.

Karena ...

Anak gua cewek hanya bisa genap usianya 1 tahun 10 hari, wafat divonis radang paru-paru akut (pneumonia) karena ayahnya merokok.

Padahal gua sendiri tidak pernah merokok di samping anakku. Setiap kali merokok, gua keluar rumah. Tetapi anak gua biasa mencium racun-racun nikotin dari baju ayahnya saat kondisi menggendongnya setelah barusan merokok.

Hanya itu saja share gua gan ...







Di antara alasan terlarangnya merokok.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan“. (QS. Al Baqarah: 195). Karena merokok dapat menjerumuskan dalam kebinasaan, yaitu merusak seluruh sistem tubuh (menimbulkan penyakit kanker, penyakit pernafasan, penyakit jantung, penyakit pencernaan, berefek buruk bagi janin, dan merusak sistem reproduksi), dari alasan ini sangat jelas rokok terlarang atau haram.

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا ضَرَرَ ولا ضِرارَ

“Tidak boleh memulai memberi dampak buruk (mudhorot) pada orang lain, begitu pula membalasnya.” (HR. Ibnu Majah no. 2340, Ad Daruquthni 3/77, Al Baihaqi 6/69, Al Hakim 2/66. Kata Syaikh Al Albani hadits inishahih). Dalam hadits ini dengan jelas terlarang memberi mudhorot pada orang lain dan rokok termasuk dalam larangan ini.

Perlu diketahui bahwa merokok pernah dilarang oleh Khalifah Utsmani pada abad ke-12 Hijriyah dan orang yang merokok dikenakan sanksi, serta rokok yang beredar disita pemerintah, lalu dimusnahkan. Para ulama mengharamkan merokok berdasarkan kesepakatan para dokter di masa itu yang menyatakan bahwa rokok sangat berbahaya terhadap kesehatan tubuh. Ia dapat merusak jantung, penyebab batuk kronis, mempersempit aliran darah yang menyebabkan tidak lancarnya darah dan berakhir dengan kematian mendadak.

Moga Allah memberi hidayah.



Artikel RemajaIslam.Com

Bergaya Atas Arab, Bawah Amerika

Kita sering melihat wanita muslimah saat ini berpenampilan, atas Arab, bawa Amerika.

Apa maksudnya?

Yaitu berpakaian jilbab dengan kerudung, namun di bawahnya memakai baju dan celana yang ketat.

Sungguh musibah ...

Karena maksud menutup aurat adalah agar tidak menampakkan aurat. Namun kok ini masih memamerkan bentuk tubuhnya yang seksi?

Dari Usamah bin Zaid di mana ia pernah berkata,

“Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah memakaikanku baju Quthbiyyah yang tebal. Baju tersebut dulu dihadiahkan oleh Dihyah Al Kalbi kepada beliau. Lalu aku memakaikan baju itu kepada istriku. Suatu kala Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menanyakanku: ‘Kenapa baju Quthbiyyah-nya tidak engkau pakai?’. Kujawab, ‘Baju tersebut kupakaikan pada istriku wahai Rasulullah’. Beliau berkata, ‘Suruh ia memakai baju rangkap di dalamnya karena aku khawatir Quthbiyyah itu menggambarkan bentuk tulangnya’” (HR. Ahmad dengan sanad layyin, namun punya penguat dalam riwayat Abi Daud. Ringkasnya, derajat hadits ini hasan).

Ini adalah sejelas-jelasnya dalil yang menunjukkan haramnya mengenakan pakaian yang membentuk lekuk tubuh. Pakaian Quthbiyyah adalah pakaian dari Mesir yang tipis. Jika tidak dikenakan baju rangkap di dalamnya, maka akan nampak bentuk tulangnya sehingga nampaklah aurat wanita. Bahkan nampak pula warna kulitnya. Demikian kata Syaikh ‘Amru bin ‘Abdil Mun’im Salim dalam kitab beliau Jilbab Al Mar-ah Al Muslimah hal. 23.

Semoga para remaja muslimah menjauhi pakaian seperti itu. Hendaklah mereka mengenakan pakaian muslimah yang sempurna, yang menutupi aurat dan tidak menampakkan bentuk lekuk tubuh.
Hanya Allah yang memberi taufik.
---

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel RemajaIslam.Com

Kenapa Seorang Muslim Boleh Menikahi Wanita Ahli Kitab, Namun Tidak Sebaliknya?

Sebagaimana telah diketahui nikah beda agama itu terlarang kecuali jika seorang muslim menikahi wanita ahli kitab. Lalu kenapa tidak berlaku sebaliknya? Berikut penjelasan yang sangat menarik dari Syaikh Muhammad bin Sholeh Al 'Utsaimin.

Diceritakan, ada seorang kristen berkata kepada seorang muslim:

"Kalian itu fanatik kepada agama kalian, karena agama kalian membolehkan lelaki kalian menikahi wanita kristen, namun lelaki kita tidak boleh menikahi wanita muslimah... Mengapa kalian boleh mengambil isteri dari kami, sedangkan kita tidak boleh mengambil isteri dari kalian?.. Adilnya masing-masing kita boleh mengambil isteri dari yang lain, atau masing-masing kita tidak boleh mengambil isteri dari yang lain".

Seorang Muslim itu menjawab:

"Ya, (karena) kami beriman kepada Rasul kalian, sedang kalian tidak beriman kepada Rasul kami... Bila kalian beriman kepada Rasul kami, maka silahkan, mari kami nikahkan kalian dengan wanita kami. 

Tapi masalahnya kalian itu mendustakan Rosul kami... Kalian mengatakan: Dia itu pendusta, dia tidak diutus untuk seluruh makhluk, tapi hanya diutus untuk bangsa Arab saja... atau (bahkan) kalian ada yang mengatakan: dia itu hanya tukang dusta (sama sekali bukan Rasul), dan sama sekali tidak diutus kepada bangsa Arab... Bagaimana kami akan menikahkan wanita kami dengan kalian?!

Sungguh ini jawaban yang mematikan.

(Kitab Syarah Ushul, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al 'Utsaimin, hal. 560. Share dari status Ustadz Musyaffa' Ad Dariny -mahasiswa doctoral Universitas Islam Madinah-)

Artikel www.remajaislam.com

Bulan Jupiter, Io, Miliki Gunung Berapi Terbanyak

Io adalah satu-satunya benda angkasa dalam tata-surya selain Bumi yang diketahui mempunyai gunung berapi magma aktif.
Badan antariksa Amerika, NASA, mengatakan samudera batu cair atau magma,  yang baru dideteksi di bawah permukaan satu dari beberapa bulan Jupiter, Io, akhirnya menjelaskan mengapa bulan tersebut mempunyai paling banyak gunung berapi aktif dalam tata-surya.

NASA menemukannya dalam menganalisa baru-baru ini data yang dikumpul sebelumnya dari pesawat penyelidik antariksa Galileo, yang terakhir mengorbit Jupiter tahun 2003.  Para ilmuwan yang melakukan penelitian baru itu mengatakan temuan tersebut penting karena ini adalah pengukuhan langsung yang pertama bahwa Io mempunyai lapisan magma cair atau sebagian cair di bawah permukaan.

Mereka menaksir samudera magma bulan Jupiter paling sedikit 50 kilometer dalamnya dan mempunyai temperatur di atas 1.200 derajat Celsius.  Para peneliti mengatakan inilah sebabnya gunung-gunung berapi Io tersebar merata di seluruh permukaannya bukan hanya di “tempat-tempat panas” kawasan tertentu seperti di Bumi.

Io adalah satu-satunya benda angkasa dalam tata-surya selain Bumi yang diketahui mempunyai gunung berapi magma aktif.  Walaupun hanya sedikit lebih besar daripada Bulan kita, gunung berapi di Io memuntahkan 100 kali lipat lava setiap tahun dari lava semua gunung berapi di Bumi.

Letusan di Io dapat mengepulkan asap partikel vulkanis 300 kilometer ke atas permukaannya dengan kecepatan sampai satu kilometer per detik.  Ini lebih dari 20 kali lipat kecepatan letusan gunung berapi yang paling kuat di bumi.

Satu tim ilmuwan dari Universitas Kalifornia dan Universitas Michigan mengadakan penelitian baru itu, yang akan dimuat dalam jurnal “Science.”

Sumber : http://www.voaindonesia.com/