Tidur setelah sahur

Assalamu'alaikum Wr.Wb

*Tips Kesehatan*

💦 *Tidur Sehabis Sahur* 💦

📝 Ketika tidur semua organ dalam tubuh akan melambat metabolisme nya, seperti usus dan lambung akan lambat dalam mencerna makanan, akibatnya makanan tidak tercerna dengan sempurna ...

📝 Makanan yg tidak tercerna dgn sempurna akan di "makan" oleh bakteri buruk --> jumlah bakteri buruk di lambung & usus menjadi dominan.
Di mana sifat bakteri ini :
anaerob (miskin oksigen), hasil metabolisme bakteri bersifat asam ...

Bakteri akan menghasilkan zat asam nitrit yang bersifat sangat asam, Asam nitrit akan meningkatkan derajat keasaman tubuh ...

📝 Derajat keasaman tubuh meningkat drastis akan membebani sistem metabolisme tubuh ...

*Asam nitrit sangat sangat beracun untuk liver anda*

📝 Liver akan bekerja keras melawan racun, Sel darah putih akan gencar diproduksi untuk melawan bakteri jahat tadi , Tubuh akan bekerja keras hanya utk menghilangkan racun ...

📝 Terjadi penumpukan gas racun amonia dalam tubuh anda akibat makanan yang tidak tercerna menjadi busuk dalam usus & lambung anda ...

*Semua ini terjadi " Hanya karena anda tidur segera setelah sahur ..."*

*_Kesimpulan :_*
____________

📝 Tidur setelah sahur akan berkontra-indikasi terhadap tujuan puasa : yaitu ingin sehat ...

📝 Tidur setelah sahur merusak liver membuat dominan bakteri jahat menambah derajat PH keasaman tubuh ...

*Jika PH tubuh anda < 4 maka sel kanker akan mulai tumbuh*

Keadaan tubuh menjadi an-aerob (miskin oksigen), sel kanker akan tumbuh pesat pada sel tubuh yg paling an aerob ...

*Rasulullah SAW tidak pernah tidur setelah sahur,*
*Usahakan lawan kantuk dengan bertadarus, mengaji, membaca buku, dll.*
*Boleh tidur 1-2 jam setelah makan ...*

Gelisah yang baik

Assalamualaikum wr wb

🍃Sahabat Surgaku🍃

*GELISAH YANG BAIK*
💐💐💐💐💐💐💐

Hati manusia adalah sesuatu yang senantiasa berbolak-balik, kadang mantap kadang ragu, kadang tenang kadang gelisah.
Nah, gelisah karena urusan dunia adalah gelisah yang menyiksa dan semestinya kita hindari. Karena gelisah karena urusan dunia adalah gelisah yang menjerumuskan kita pada kesesatan, misalnya gelisah takut kehilangan jabatan, gelisah takut harta kekayaan berkurang dan sebagainya.

Namun, ada gelisah yang baik yaitu gelisah karena urusan akhirat. Yaitu seperti gelisah karena takut tidak ditolong Alloh Swt., gelisah karena sholat Subuh kesiangan, gelisah karena tertinggal sholat berjamaah, gelisah karena merasa masih sedikit amal kebaikan, gelisah karena berbuat maksiat.
Inilah gelisah yang baik karena menandakan sinyal fitrah di hati kita masih berfungsi dengan baik, sinyal yang senantiasa berbunyi manakala kita jauh dari Alloh meski sedikit saja.

Jika gelisah yang seperti ini tidak ada di hati kita maka itu adalah ciri kita sudah terlalu jauh tenggelam dalam lumpur dosa yang hitam pekat, sehingga membuat hati kita tidak lagi peka. Hati kita telah terbiasa dengan dosa, hati kita sudah keras untuk ditembus oleh kesejukan nasehat.
*Na’udzubillaahi mindzalik!*

Oleh karena itu, kita perlu senantiasa berikhtiar agar memiliki hati yang peka, hati yang senantiasa gelisah manakala menjauh dari Alloh Swt., hati yang senantiasa memberikan alarm ketika kita tersesat jalan atau terlupa. Berbahagialah orang yang memiliki hati seperti ini, karena inilah hati yang akan dilimpahi ketenangan oleh Alloh Swt.

*Alloh Swt. berfirman, "Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka* *(yang telah ada).*
*Dan kepunyaan Alloh-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”* (QS. Al Fath [48]: 4)

Semoga kita termasuk orang-orang yang memiliki kebeningan hati, sehingga senantiasa condong kepada ketaatan kepada Alloh Swt., dan senantiasa  gelisah manakala jauh dari-Nya. 
Aamiin yaa Robbal’aalamiin🙏🏻🙏🏻

Selamat menjalankan ibadah puasa hari yang ke-6🙏

Syukur Nikmat

Assalamualaikum wr. wb.

💎Sahabat Surgaku💎

Mari kita renungkan bersama.

Qorun tidak pernah tahu bahwa kartu ATM yang tipis, yang ada di saku kita sudah cukup, daripada semua kunci-kunci peti hartanya, yang orang-orang paling kuat sekalipun, sangat berat membawanya, sehingga akhirnya dia terkubur bersama hartanya...

Kisra raja Persia, tidak pernah tahu, jika sofa busa yang ada dirumah kita, lebih menyenangkan daripada singgasananya...

Kaisar yang mengipasinya dengan kipas dari bulu merak diatas kepalanya, tidak pernah sekalipun melihat dan merasakan dinginnya AC yang ada dirumah kita...

Heraklius yang minum air dari botol porselen, yang orang-orang sekitarnya merasa iri dengan kesejukan airnya, tidak pernah merasakan dinginnya air kulkas di rumah kita.

Khalifah Al-Manshur yang budak-budaknya menuangkan air panas ke air dingin sebagai campuran untuk mandinya, dan memandang dirinya dengan kebanggaan, tidak pernah sekalipun mandi dengan jacuzzy atau shower air panas seperti kita sekarang ini.

Orang-orang dulu berhaji dan mesti tinggal diatas Unta selama satu bulan, tidak seperti sekarang, perjalanan haji kita yang hanya beberapa jam diatas pesawat ber-AC.

Kita hidup dalam kehidupan yang tidak pernah dilewati para Raja, bahkan tidak pernah mereka impikan.

Tapi kebanyakan kita tetap merasa hidup penuh kesusahan dan kesempitan dan hanya merasa mendapat sedikit bagian dari nikmat Tuhan.

*Semakin terbuka mata kita*
*Semakin sempit dada kita*
Na'udzubillaahi mindzalik!

Yaa Allah...
Segala Puji bagi-Mu atas semua nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepada kami, pada Agama dan Dunia kami.

Kami tidak mampu menghitungnya sebagaimana kami tidak bisa menghitung pujian atas-Mu.

*"Fabi Ayyi Aalaa Irabbikuma tukadzdziban"*

*"Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang masih kamu dustakan?"*

Indahnya mensyukuri nikmat yang ada.

Pikiran kita adalah kenyataan kita

Assalamualaikum wr. wb.

*APA YANG DIKHAWATIRKAN ITULAH YANG AKAN TERJADI*

Ini seperti  film the Secret  yang Rosulullah sudah kabarkan 14 abad yang lalu.......
Selamat menyimak saudaraku.... 🌹🌹🌹🌹

"Suatu hari, Rasulullah saw menjenguk seseorang yang sedang sakit demam. Beliau menghibur dan membesarkan hati orang tersebut.

Beliau berkata, _'Semoga penyakitmu ini menjadi penawar dosamu’._

Orang itu menjawab, _'Tapi ini adalah demam yang mendidih, yang menimpa orangtua yang sudah peot, yang bisa menyeretnya ke lubang kubur’._

Mendengar keluhan orang itu, Rasulullah saw berkata, _‘Kalau demikian anggapanmu, maka akan begitulah jadinya’._ (HR. Ibnu Majah)

Sungguh indah apa yang dikatakan Rasulullah saw. Perhatikan pesan-pesan Rasulullah berikut ini :

_"Barangsiapa yang ridha, maka keridhaan itu untuknya. Barangsiapa mengeluh, maka keluhan itu akan menjadi miliknya"_
(HR. at-Tirmidzi)

_"Salah satu kebahagiaan seseorang adalah keridhaannya menerima keputusan ALLAH."_
(HR. Ahmad)

Jika kita memikirkan bahagia, maka kita akan bahagia.

Jika kita berpikiran sedih, maka kita menjadi sedih.

Jika kita berpikiran gagal, kita menjadi gagal

Jika kita berpikiran sakit, kita pun menjadi sakit.

*You are what you think* Anda adalah apa yang Anda pikirkan. Selalu berfikir yang positif dan jangan pernah biarkan pikiran negatif membelenggu otak, dan kehidupan.

_Jadi tetap semangat dan jangan pernah menyerah pada keadaan. Tugas kita hanya 2, yaitu :
*Berdoa dan Berusaha optimal*, selanjutnya serahkan kepada ALLAH SWT._

Nabi SAW bersabda :
_"Ketika seorang hamba berkata *Laa Haula Wa Laa Quwwata Ila Billah*, maka ALLAH berfirman, "Lihatlah (hai para malaikat), orang ini telah menyerahkan urusannya kepadaKu"."_
(HR. Ahmad).

Amalan Sunnah

Assalamualaikum wr. wb.

_*Yakin gak apa-apa?*_

Di zaman sekarang, banyak dari kita yang secara sengaja meninggalkan amalan-amalan Sunnah. Seperti Salat Rawatib, tadarus, sedekah, menjaga wudhu, menyegerakan shalat, shalat berjamaah, dan amalan Sunnah lainnya.

Ternyata, tanpa disadari, sejak kecil kita memang diajarkan untuk meninggalkannya.

Masih ingatkah jawaban kita ketika ditanya _“Apa arti Sunnah?”_, maka jawabannya _“Jika dikerjakan mendapat pahala, kalau ditinggalkan *gak apa-apa*.”_

Karena hal tersebut, sejak kecil, sudah tertanam di diri kita, bahwa tidak ada apa-apa meninggalkan hal yang Sunnah.

Kini, setelah mulai mempelajari tentang amalan Sunnah, muncul pertanyaan dalam diri. Apanya yang *gak apa-apa* kalau meninggalkan Sunnah?

Apanya yang *gak apa-apa* ketika kita meninggalkan rawatib? Padahal Allah janjikan Istana di Syurga bagi yang melaksanakannya.

Apanya yang *gak apa-apa*  ketika kita meninggalkan tadarus? Padahal setiap bacaan qur’an akan datang memberi syafaat bagi kita jika membacanya.

Apanya yang *gak apa-apa* ketika kita tidak berjamaah di masjid? Padahal Rasulullah SAW bilang, pahalanya bisa bikin orang datang walau harus merangkak.

Apanya yang *gak apa-apa*, ketika kita diberi kesempatan, namun kita dengan sengaja melewatkan banyak sekali keutamaan yang telah dijanjikan oleh Allah?

Seharusnya, pengertian Sunnah dalam hidup kita, mulai diperbaiki menjadi. _“Jika dikerjakan mendapat pahala, jika ditinggalkan maka kita menjadi orang-orang yang *MERUGI.*”_

Agar kelak, diri kita, terutama anak-anak kita kelak, akan menjadi orang yang tak ingin melepaskan kesempatan melakukan amalan Sunnah, walau urusan dunia sangat menggoda sekalipun.

Wallahu’alammu bisshawab.

Kisah Ibnu Muljam

*PERISTIWA 7 RAMADLAN YG TERLUPAKAN*

Erat kaitannya yg terjadi banyak aksi teror dan jihad keliru di Dunia saat ini.

“Hukum itu milik Allah, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu.”
Teriakan itu menggema ketika Abdurrahman bin Muljam Al Murodi menebas leher sahabat Ali bin Abi Thalib, karomallahu wajhah.

Subuh 7 Ramadhan itu duka menyelimuti hati kaum muslimin. Nyawa sahabat yang telah dijamin oleh Rasululah SAW menjadi penghuni surga itu hilang di tangan seorang saudara sesama muslim. Ali terbunuh atas nama hukum Allah dan demi surga yang entah kelak akan menjadi milik siapa.

Tidak berhenti sampai di sana, saat melakukan aksinya Ibnu Muljam juga tidak berhenti merapal Surat Al Baqarah ayat 207:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

Sebagai hukuman atas aksinya mencabut nyawa seorang khalifah, Ibnu Muljam kemudian dieksekusi mati dengan cara qishas. Proses hukuman mati yang dijalankan terhadap Ibnu Muljam juga berlangsung dengan penuh drama. Saat tubuhnya diikat untuk dipenggal kepalanya dia masih sempat berpesan kepada algojo:

“Wahai Algojo, janganlah engkau penggal kepalaku sekaligus. Tetapi potonglah anggota tubuhku sedikit demi sedikit hingga aku bisa menyaksikan anggota tubuhku disiksa di jalan Allah.”

Ibnu Muljam meyakini dengan sepenuh hati bahwa aksinya mencabut suami sayyidah Fathimah, sepupu Rasulullah, dan ayah dari Al-Hasan dan Al-Husein itu adalah sebuah aksi jihad fi sabilillah.
Seorang ahli surga harus meregang nyawa di tangan seorang muslim yang meyakini aksinya itu adalah di jalan kebenaran demi meraih surga Allah.

Potret Ibnu Muljam adalah realita yang terjadi pada sebagian umat Islam di era modern.

Generasi pemuda yang mewarisi Ibnu Muljam itu giat memprovokasikan untuk berjihad di jalan Allah dengan cara memerangi, dan bahkan membunuh nyawa sesama kaum muslimin.

Siapa sebenarnya Ibnu Muljam? Dia adalah lelaki yang shalih, zahid dan bertakwa dan mendapat julukan Al-Maqri’.

Sang pencabut nyawa Sayyidina Ali itu seorang huffadz alias penghafal Alquran dan sekaligus orang yang mendorong sesama muslim untuk menghafalkan kitab suci tersebut.

Khalifah Umar bin Khattab pernah menugaskan Ibnu Muljam ke Mesir untuk memenuhi permohonan ‘Amr bin ‘Ash untuk mengajarkan hafalan Alquran kepada penduduk negeri piramida itu.

Dalam pernyataannya, Khalifah Umar bin Khattab bahkan menyatakan:
“Abdurrahman bin Muljam, salah seorang ahli Alquran yang aku prioritaskan untukmu ketimbang untuk diriku sendiri. Jika ia telah datang kepadamu maka siapkan rumah untuknya untuk mengajarkan Alquran kepada kaum muslimin dan muliakanlah ia wahai ‘Amr bin ‘Ash” kata Umar.

Meskipun Ibnu Muljam hafal Alquran, bertaqwa dan rajin beribadah, tapi semua itu tidak bermanfaat baginya. Ia mati dalam kondisi su’ul khatimah, tidak membawa iman dan Islam akibat kedangkalan ilmu agama yang dimilikinya. Afiliasinya kepada sekte Khawarij telah membawanya terjebak dalam pemahaman Islam yang sempit. Ibnu Muljam menetapkan klaim terhadap surga Allah dengan sangat tergesa-gesa dan dangkal. Sehingga dia dengan sembrono melakukan aksi-aksi yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama Islam.

Alangkah menyedihkan karena aksi itu diklaim dalam rangka membela agama Allah dan Rasulullah.

Sadarkah kita bahwa saat ini telah lahir generasi-generasi baru Ibnu Muljam yang bergerak secara massif dan terstruktur.

Mereka adalah kalangan saleh yag menyuarakan syariat dan pembebasan umat Islam dari kesesatan.

Mereka menawarkan jalan kebenaran menuju surga Allah dengan cara mengkafirkan sesama muslim. Ibnu Muljam gaya baru ini lahir dan bergerak secara berkelompok untuk meracuni generasi-generasi muda Indonesia.

Sehingga mereka dengan mudah mengkafirkan sesama muslim, mereka dengan enteng menyesatkan kiai dan ulama.

Raut wajah mereka memancarkan kesalehan yang bahkan tampak pada bekas sujud di dahi. Mereka senantiasa membaca Alquran di waktu siang dan malam. Namun sesungguhnya mereka adalah kelompok yang merugi. Rasulullah dalam sebuah hadits telah meramalkan kelahiran generasi Ibnu Muljam ini:

Akan muncul suatu kaum dari umatku yang pandai membaca Alquran. Dimana bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka.

Demikian pula shalat kalian daripada shalat mereka. Juga puasa mereka dibandingkan dengan puasa kalian. Mereka membaca Alquran dan mereka menyangka bahwa Alquran itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Alquran itu adalah (bencana) atas mereka. Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan.

Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya. (Sahih Muslim, hadits No.1068)

Kebodohan mengakibatkan mereka merasa berjuang membela kepentingan agama Islam padahal hakikatnya mereka sedang memerangi Islam dan kaum muslimin. Wahai kaum muslimin dan nahdlyyin, waspadalah pada gerakan generasi Ibnu Muljam.

Mari kita siapkan generasi muda kita agar tidak diracuni oleh golongan Ibnu Muljam gaya baru. Islam itu agama Rohmatan Lil Alamin. Islam itu agama keselamatan. Islam itu merangkul, dan bukan memukul. Ihdinasshiratal mustaqim….(*)
اللهم ثبت قلوبنا على دينك الحق،  آمين...

*) Dirangkai dari banyak sumber dan hasil diskusi.
*) Hasil copas....

Kisah Sya'ban r.a.

KISAH TELADAN DARI SAHABAT NABI YANG TIDAK POPULER*l

Alkisah seorang sahabat bernama Sya’ban RA.
Ia adalah seorang sahabat yang tidak menonjol dibandingkan sahabat – sahabat yang lain.
Ada suatu kebiasaan unik dari beliau yaitu setiap masuk masjid sebelum sholat berjamaah dimulai dia selalu beritikaf di pojok depan masjid.

Dia mengambil posisi di pojok bukan karena supaya mudah senderan atau tidur, namun karena tidak mau mengganggu orang lain dan tak mau terganggu oleh orang lain dalam beribadah.

Kebiasaan ini sudah dipahami oleh sahabat bahkan oleh RasululLah Shallallahu `alaihi Wa Sallam, bahwa Sya’ban RA selalu berada di posisi tersebut termasuk saat sholat berjamaah.

Suatu pagi saat sholat subuh berjamaah akan dimulai RasululLah Shallallahu `alaihi Wa Sallam mendapati bahwa Sya’ban RA tidak berada di posisinya seperti biasa.
Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam pun bertanya kepada jemaah yang hadir apakah ada yang melihat Sya’ban RA.
Namun tak seorangpun jemaah yang melihat Sya’ban RA.
Sholat subuhpun ditunda sejenak untuk menunggu kehadiran Sya’ban RA. Namun yang ditunggu belum juga datang.
Khawatir sholat subuh kesiangan, Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam memutuskan untuk segera melaksanakan sholat subuh berjamaah.

Selesai sholat subuh, Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya apa ada yang mengetahui kabar dari Sya’ban RA.
Namun tak ada seorangpun yang menjawab .
Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya lagi apa ada yang mengetahui di mana rumah Sya’ban RA.
Kali ini seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia mengetahui persis di mana rumah Sya’ban RA.
RasululLah Shallallahu `alaihi Wa Sallam yang khawatir terjadi sesuatu dengan Sya’ban RA meminta diantarkan ke rumah Sya’ban RA.

Perjalanan dengan jalan kaki cukup lama ditempuh oleh Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam dan rombongan sebelum sampai ke rumah yang dimaksud.
Rombongan Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam sampai ke sana saat waktu afdol untuk sholat dhuha
( kira-kira 3 jam perjalanan).
Sampai di depan rumah tersebut beliau Shallallahu `alaihi Wa Sallam mengucapkan salam.
Dan keluarlah seorang wanita sambil membalas salam tersebut. “

Benarkah ini rumah Sya’ban RA?” Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya.
“Ya benar, saya istrinya” jawab wanita tersebut. “
Bolehkah kami menemui Sya’ban RA, yang tadi tidak hadir saat sholat subuh di masjid?” .
Dengan berlinangan air mata istri Sya’ban RA menjawab:
“ Beliau telah meninggal tadi pagi”
InnaliLahi wainna ilaihirojiun…SubhanalLah ,
satu – satunya penyebab dia tidak solat subuh berjamaah adalah karena ajal sudah menjemputnya….

Beberapa saat kemudian istri Sya’ban  bertanya kepada Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam
“ Ya Rasul ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua,
yaitu menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali dengan masing – masing teriakan disertai satu kalimat.
Kami semua tidak paham apa maksudnya”.
“Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam .
Di masing – masing teriakannya dia berucapkalimat

*“ Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……”*

*“ Aduuuh kenapa tidak yang baru……. “*

*“ Aduuuh kenapa tidak semua……”*

Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam pun melantukan ayat yang terdapat dalam surat Qaaf (50) ayat 22 yang artinya:
“ Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam “

Saat Sya’ban RA dalam keadaan sakratul maut…
perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala .
Bukan cuma itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala .
Apa yang dilihat oleh Sya’ban RA ( dan orang yang sakratul maut) tidak bisa disaksikan oleh yang lain.
Dalam pandangannya yang tajam itu Sya’ban RA melihat suatu adegan di mana kesehariannya dia pergi pulang ke Masjid untuk sholat berjamaah lima waktu.
Perjalanan sekitar 3 jam jalan kaki sudah tentu bukanlah jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya’ban RA diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah – langkah nya ke Masjid.
Dia melihat seperti apa bentuk sorga ganjarannya.
Saat melihat itu dia berucap:

*“ Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……”*

Timbul penyesalan dalam diri Sya’ban RA,
mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih banyak dan sorga yang didapatkan lebih indah.

Dalam penggalan berikutnya Sya’ban RA melihat saai ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin.
Saat ia membuka pintu berhembuslah angin dinginyang menusuk tulang.
Dia masuk kembali ke rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Jadi dia memakai dua buah baju.
Sya’ban RA sengaja memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di luar.
Pikirnya jika kena debu, sudah tentu yang kena hanyalah baju yang luar, sampai di masjid dia bisa membuka baju luar dan solat dengan baju yang lebih bagus.
Dalam perjalanan ke tengah masjid dia menemukan seseorang yang terbaring kedinginan dalam kondisi yang mengenaskan.
Sya’ban RA pun iba , lalu segera membuka baju yang paling luar dan dipakaikan kepada orang tersebut dan memapahnya untuk bersama – sama ke masjid melakukan sholat berjamaah.
Orang itupun terselamatkan dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan sholat berjamaah.
Sya’ban RA pun kemudian melihat indahnya sorga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut.
Kemudian dia berteriak lagi :

*“ Aduuuh kenapa tidak yang baru……. “*

Timbul lagi penyesalan di benak Sya’ban RA.
Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala yang begitu besar, sudah tentu ia akan mendapat yang lebih besar lagi seandainya ia memakaikan baju yang baru.

Berikutnya Sya’ban RA melihat lagi suatu adegan saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke segelas susu. Bagi yang pernah ke tanah suci sudah tentu mengetahui sebesar apa ukuran roti arab (sekitar 3 kali ukuran rata-rata roti Indonesia)

Ketika baru saja hendak memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta diberikan sedikit roti karena sudah lebih 3 hari perutnya tidak diisi makanan.
Melihat hal tersebut , Sya’ban RA merasa iba .
Ia kemudian membagi dua roti itu sama besar,
demikian pula segelas susu itu pun dibagi dua.
Kemudian mereka makan bersama – sama roti itu yang sebelumnya dicelupkan susu , dengan porsi yang sama…
Allah Subhanahu wa Ta'ala kemudian memperlihatkan ….
ganjaran dari perbuatan Sya’ban RA dengan sorga yang indah.
Demi melihat itu diapun berteriak lagi:

*“ Aduuuh kenapa tidak semua……”*

Sya’ban RA kembali menyesal .
Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis tersebut tentulah dia akan mendapat sorga yang lebih indah

Masyaallah,

Sya’ban bukan menyesali perbuatannya,
tapi menyesali mengapa tidak optimal.
Sesungguhnya semua kita nanti pada saat sakratul maut akan menyesal tentu dengan kadar yang berbeda, bahkan ada yang meminta untuk ditunda matinya karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas …konsekwensi dari semua perbuatannya di dunia.
Mereka meminta untuk ditunda sesaat karena ingin bersedekah.
Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat diakhirkan

*Sering sekali kita mendengar ungkapan – ungkapan berikut :*
*_“ Sholat Isya berjamaah pahalanya sama dengan sholat separuh malam”_*
*_“ Sholat Subuh berjamaah pahalanya sama dengan sholat sepanjang malam”_*
*_“ Dua rakaat sebelum Shubuh lebih baik dari pada dunia dan isinya”_*

*Namun lihatlah Masjid tetap saja lengang dan terasa longgar.*
Seolah kita tidak percaya kepada janji Allah Subhanahu wa Ta'ala .
Mengapa demikian?
Karena apa yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta'ala itu tidak terlihat oleh mata kita pada situasi normal.
Mata kita tertutupi oleh suatu hijab.
Karena tidak terlihat, maka yang berperan adalah iman dan keyakinan bahwa janji Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak pernah meleset.
Allah Subhanahu wa Ta'ala akan membuka hijab itu pada saatnya.
Saat ketika nafas sudah sampai di tenggorokan….

*Sya’ban RA telah menginspirasi kita bagaimana seharusnya menyikapi janji Allah Subhanahu wa Ta'ala tersebut.*
Namun ternyata dia tetap menyesal sebagaimana halnya kitapun juga akan menyesal.
Namun penyesalannya bukanlah sia – sia.
Penyesalannya karena tidak melakukan kebaikan dengan optimal…..

Mudah-mudahan kisah singkat ini bermanfaat bagi kita semua dalam mengarungi sisa waktu yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada kita.
Dan mari kita berdo’a semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi kita kekuatan untuk melakukan sebaik,  dari pada apa yang dilakukan oleh Sya’ban RA…

Aamiin

Semoga Bermanfaat
Silahkan share