7 (Tujuh) Hal yang Secara Tidak Disadari Dapat Membatalkan Puasa

1. DUDUK
Duduk di warung padang kemudian memesan rendang adalah membuat kita batal tetapi kalo duduk dan ngobrol kemudian memesan es teh manis itu batal juga.

2. BERLARI KENCANG
Berlari kencang menuju warteg lalu memesan teh botol dapat membatalkan puasa juga, apalagi setelah itu memesan Indomie rebus.

3. MELEMPAR UANG LOGAM
Melempar uang Logam dapat membatalkan puasa jika lemparan uang tersebut ditangkap Penjual Es Degan kemudian Penjual Es Degan menghadiahkan kita segelas Es Degan dan gorengan.

4. TERSENYUM
Tersenyum dapat membatalkan puasa jika kita tersenyum sehabis meminum Coca Cola di pinggir jalan kemudian memesan lagi Fanta dan Sprite.

5. MELAMUN
Melamun dapat membatalkan puasa jika sambil diiringi kepulan asap rokok dari mulut.

6. MAIN BBM dan WA
Main BBM dan WA juga dapat membatalkan puasa jika sambil diiringi minum kopi dan sepiring goreng pisang, tetapi kalo sambil ngerokok itu namanya keterlaluan.

7. KENTUT
Kentut sehabis makan ubi goreng juga dikategorikan sebagai hal yang membatalkan puasa. Kentutnya aja udah membatalkan wudhu, apalagi makan ubi gorengnya.

Demikianlah 7 (tujuh) hal yang secara tidak disadari dapat membatalkan puasa. Mudah-mudahan puasa kita selalu dapat terjaga.

Ramadhan Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib


Hasan bin Ali bin Abi Thalib, putra pertama Imam Ali, hampir setiap hari di bulan Ramadhan, menghidangkan makanan bagi orang miskin untuk berbuka. Beliau melayani dan mengatur makanan yang diberikan kepada para tamunya, untuk segenap orang miskin yang berada di Madinah kala itu.

Sebegitu populernya acara tersebut sampai hampir seluruh masyarakat yang ada tahu bahwa bila ingin berbuka dan menikmati makanan yg nikmat mereka boleh ke tempat Hasan bin Ali.

Semakin hari semakin banyak orang yg datang, dan sungguhpun demikian makanan yg disiapkan senantiasa mencukupi untuk semua tamu. Di antara para tamu tersebut, ada satu orang yang pada hari itu membawa pulang makanannya tanpa menyentuhnya. ia hanya membatalkan dengan sebuah kurma dan 3 teguk air. Dan ini tak luput dari pandangan Beliau. Beliaupun tergelitik untuk bertanya, "Saudaraku tercinta, tidak seperti yang lain, engkau tidak memakan makananmu, apakah ada keluargamu yg sedang sakit? Bila iya, izinkan saya membantu atau minimal bolehkah saya menegoknya? Semoga saya bisa melakukan sesuatu."

Orang tua itu pun menatap Hasan, dan kemudian dengan wajah sedih ia menjawab, "Maafkan saya, wahai Putra Rasul, saya hidup sebatang kara, dan saya tidak punya keluarga lagi. Tentang makanan ini, saya ingin berikan kepada seorang lelaki gagah yang selalu saya temui di perkebunan yang ada di dekat rumahku. Setiap hari saya melihatnya kerja di perkebunan itu, dan bila waktu berbuka tiba dia selalu hanya memakan sepotong roti kering yang dibasahi air. Ia bekerja dan bekerja, seperti lelah tak menghampirinya. Tapi pun demikian tatkala duduk beristirahat, saya senantiasa mendengar lantunan ayat alquran yang suci dari mulutnya. Saya tak pernah berbicara dengannya. Tapi saya kagum dan sangat hormat terhadapnya. Hari ini, saya berharap bisa menyenangkannya dengan makanan ini, setidaknya memberikan dia menu yang berbeda, maafkan saya wahai Tuan."

Hasan bin Ali terharu mendengarnya beliau meneteskan air matanya, "Makanlah makananmu, dan bawalah makanan untuknya." "Tidak wahai Tuan, Anda telah demikian baik, biarlah makan jatahku kuberikan padanya, hatiku membisikkan demikian ijinkanlah wahai Tuan," kata orang tua itu bersikukuh.

Hasan bin Ali makin terharu, air matanya makin menetes deras. "Bapak tua, tahukah engkau siapa lelaki yang hendak kau berikan makanan tersebut? Dialah Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah SAW, Pedang Allah, kekasih Allah dan Rasul-Nya, ayahku. Sesungguhnya makanan yang kita makan ini adalah hasil kerjanya, dan dia memilih berbuka dengan apa yang kau sebutkan tadi....."

@tafsirhikmah

Renungan Pagi

Seorang pria menikahi seorang gadis cantik. Dia sangat mencintainya. Suatu hari sang istri mengalami penyakit kulit. Perlahan-lahan dia mulai kehilangan kecantikannya. Kebetulan suatu hari suaminya pergi untuk tur. Ketika kembali ia mengalami kecelakaan dan kehilangan penglihatannya. Namun kehidupan pernikahan mereka terus berjalan seperti biasa. Tapi seiring hari berlalu, sang istri kehilangan kecantikannya secara bertahap. Suami buta tidak menganggapnya dan tidak ada perbedaan dalam kehidupan pernikahan mereka. Dia terus mencintainya, demikian juga sang istri juga sangat mencintainya.
Suatu hari sang istri meninggal. Kematiannya membawa kesedihan yang mendalam bagi sang suami.
Dia menyelesaikan acara penguburan dan ingin meninggalkan kota itu.
Seorang pria dari belakang menyapa dan mengatakan, sekarang bagaimana Anda akan menjalani semuanya sendirian? Selama ini istri Anda biasanya membantu Anda.
Dia menjawab, saya tidak buta. Saya berpura-pura, karena jika dia tahu aku bisa melihat keburukan dirinya, itu akan menyakitkan dirinya lebih dari penyakitnya. Jadi saya pura-pura buta. Dia adalah seorang istri yang baik. Aku hanya ingin membuatnya bahagia.

Pesan Moral:
*Terkadang bagus bagi kita menutup mata dan mengabaikan kekurangan orang lain agar supaya menjadi bahagia.*

*Tidak peduli berapa kali gigi menggigit lidah, mereka masih tinggal bersama dalam satu mulut. Itulah semangat PENGAMPUNAN.*

*Meskipun kedua mata tidak melihat satu sama lain, mereka melihat hal-hal bersama-sama, berkedip secara bersamaan dan menangis bersama-sama. Itu KESATUAN.*

Semoga Allah memberikan kita semua semangat pengampunan dan kebersamaan.

1) Sendirian, saya bisa 'berkata' tetapi *bersama-sama kita bisa 'berbincang'.*
2) Sendirian, saya bisa 'menikmati' tetapi *bersama-sama kita bisa 'merayakan'.*
3) Sendirian, saya bisa 'tersenyum' tetapi *bersama-sama kita bisa 'bersenda gurau'.*

Itulah keindahan hubungan manusia. Kita bukanlah apa-apa tanpa satu sama lain. TETAPLAH TERHUBUNG.

KUTIPAN HARI INI
*Silet cukur itu tajam tetapi tidak dapat memotong pohon; kapak itu kuat tapi tidak bisa memotong rambut.*

Pesan Moral:
*Semua orang penting menurut tujuan uniknya masing-masing. Jangan pernah memandang ke bawah (rendah) kepada siapa pun kecuali Anda mengagumi sepatu mereka.

7 tingkatan kepribadian

Ada 7 tingkatan kepribadian menuju kesempurnaan
1.kepribadian tingkat pertama(an nafsu al amarah)
   Ini adalah tingkatan kepribadian manusia yang mengutamakan hasrat dan kenikmatan dunia.
 Indikatornya.yang bersangkutan masih sibuk dengan kenikmatan jasmani dan mengutamakan ego.
Pada tingkatan ini yang paling mudah di lihat adalah bila yang bersangkutan perilakunya dominan pada serakah,sombong,pamer,fitnah,dusta,marah dan sejenisnya.

2. Kepribadian tingkat kedua (an nafsu al lawwamah)
    Pada tingkatan ini yang bersangkutan masih sering terbawa muslihat kebendaan atau keduniaan,tetapi sudah berusaha melawan dominasi hasrat an nafsu al amarah.

3.kepribadian tingkat ketiga (an nafsu al mulhimah)
Pada tataran ini yang bersangkutan telah memiliki semangat meningkatkan ketaqwaanya dengan mencari ridha ALLAH dalam perilakunya.
Indikatornya,ia lebih mengutamakan introspeksi diri ketimbang menyalahkan orang lain.ia selalu mengikuti sunnah rasulullah.
4.kepribadian tingkat ke empat(an nafs al qona'ah)
Pada tingkatan ini manusia sudah merasa pada batas cukup terhadap apa yang menjadi miliknya.
Ia tak tertarik pada hal hal yang menjadi milik org lain.pada tingkatan ini ,manusia telah menyadari betul bahwa kebaikan apapun semua atas kehendak ALLAH.
5.Kepribadian tingkat kelima (an nafs al mutmainah)
Pada tataran ini ,manusia yang bersangkutan telah benar benar mendapati dirinya pada kualitas yang sangat baik dalam ketenangan dan berserah diri kepada ALLAH.
Kebahagiaan nya timbul karena hidupnya fokus untuk mencintai ALLAH seutuhnya bukan lantaran pengakuan dari manusia.
6.kepribadian tingkat ke enam (an nafs al radhiyah)
Sosok yang memiliki kepribadian ini menyadari betul bahwa islam adalah fitrah insan dan ia haqqul yaqin pada alqur'an dan assunnah.
Jiwanya selalu puas dan tenang,lantaran seluruh aktifitasnya dimaknai sebagai ibadah kepadaNYA.
Kepatuhanya kepada ALLAH, sebagai implementasi rasa terima kasih atas karunia yang ia dapati.
7.kepribadian tingkat ketujuh (an nafs al kamilah)
Pemilik kepribadian ini adalah sosok yang mulia dalam kodrat dirinya sebagai manusia.ini adalah tingkat manusia yang utuh.
Kesempurnaanya tampak pada moral yang bersih dari hasrat jasmaniah,lantaran kesadaranya tentang keberadaan ALLAH telah utuh sebagai pengetahuannya.
Alangkah baiknya kalau kita setiap saat melakukan muhasabah.
Mengenali dan mengevaluasi diri kita sendiri,sebenarnya berada di tingkatan kepribadian yang mana?

Pesan untuk orang tua

Dhony A Kusuma:
*Pesan Ibu Elly Risman*
*Senior Psikolog UI, Konsultan Parenting Nasional*
*Inilah pesan Ibu Elly Risman untuk para Orangtua :*
Kalau Anda dititipi anak Presiden, kira-kira bagaimana mengasuh dan menjaganya ?
Beranikah Anda membentaknya sekali saja ?
Pasti enggak, kan ?
Nah, yang sekarang menitip bukan Presiden, tapi yang jauh lebih berkuasa dari Presiden, yaitu Allah.
Beranikah Anda membentak, memarahi, mencubit, menyentil, bahkan memukul ?
Jika Anda pernah melakukannya, kira-kira nanti di hari akhir, apa yang Anda jawab ketika ditanya Pemiliknya ?
*Jiwa anakmu lebih mahal* dari susu termahal yang ditumpahkannya.
*Jaga lisanmu,* duhai orangtua.
*Jangan pernah* engkau *memarahi* anakmu hanya gara-gara ia menumpahkan susunya atau karena ia *melakukan hal* yang menurutmu *salah.*
Anakmu tidak tahu kalau apa yang ia *lakukan adalah kesalahan.*
*Otaknya belum mempunyai konsep* itu.
*Jaga Jiwa Anakmu.*
Lihatlah *tatapan mata* anakmu yang *tidak berdosa* itu ketika *engkau marah-marah.*
Ia diam dan mencoba mencerna apa yang engkau katakan.
*Apakah ia mengerti ?*
Mungkin iya, tapi cobalah perhatikan apa yang ia lakukan.                        *setelah* engkau *pukul dan engkau marahi.*
Anakmu *tetap memelukmu*, masih ingin *engkau belai.*
Bukankah inilah tanda si anak *memaafkanmu ?*
Namun, jika engkau terus-menerus mengumbar kata-kata kasarmu kepadanya, *otak anakmu akan merekamnya* dan akhirnya, *cadangan ‘maaf’ di otaknya hilang.*
*Apa yang akan terjadi* selanjutnya, duhai orangtua ?
Anakmu akan *tumbuh menjadi anak yang ‘ganas’* dan ia pun akan *membencimu sedikit demi sedikit* hingga *tidak tahan* hidup bersamamu.
*Jiwa anak yang terluka itu akan mendendam.*
Pernahkah engkau *saksikan* anak-anak yang *‘malas’ merawat orangtuanya ketika tua ?*
*Jangan salahkan* anak-anaknya.
*Cobalah memahami* apa yang sudah *dilakukan* oleh orangtua itu kepada anak-anaknya ketika mereka *masih kecil.*
Orangtua.., anakmu itu *bukan kaset* yang bisa kau rekam untuk *kata-kata kasarmu.*
Bersabarlah.
*Jagalah kata-katamu* agar anak hanya tahu bahwa ayah ibunya adalah *contoh yang baik, yang bisa menahan amarahnya.*
Duhai orangtua, engkau pasti kesal kalau anakmu nakal.
Tapi pernahkan engkau *berpikir* bahwa kenakalannya mungkin adalah *efek rusaknya* jiwa anakmu karena *kesalahanmu...*
Kau *pukul & kau cubit anakmu* hanya karena melakukan *hal-hal sepele*.  
Kau hina dina anakmu hanya karena ia *tidak mau melakukan* hal-hal yang engkau *perintahkan.*
Cobalah duduk dan *merenungi* apa saja *yang telah engkau lakukan* kepada anakmu.
Apakah engkau lebih sayang pada susu paling mahal yang tertumpah?
Anakmu pasti *menyadari* dan tahu ketika kemarahan itu *selalu hadir di depan matanya.*
*Jiwanya* pun menjadi memerah bagai bara api.
*Apa yang mungkin terjadi ketika jiwa anak sudah terusik ?*
Anak *tidak hormat* pada orangtua.
Anak *menjadi musuh* orangtua.
Anak *menjadi sumber kekesalan* orangtua.
Anak tidak bermimpi hidup bersama dengan orangtua.
*Hal-hal inikah yang engkau inginkan, duhai orangtua ?*
*Ingatlah, jiwa anakmu lebih mahal* dari susu termahal yang ditumpahkannya.
*Jaga lisan* dan *perlakukanmu* kepada anakmu.

*Untuk saya dan yang merasa menjadi bapak & ibu* 

Buya Hamka


*Sepenggal Sejarah*
Presiden pertama, founding father-nya negara inipun pernah menyerang seorang ulama besar.
Dianggap melawan pemerintah (yang menurut saya sebenarnya pemerintah waktu itu tak ingin mendapat kritikan yang cerdas), M. Yamin dan Soekarno berkolaborasi menjatuhkan wibawa Buya Hamka melalui headline beberapa media cetak yang diasuh oleh Pramoedya Ananta Toer.
Berbulan-bulan Pramoedya menyerang Buya Hamka secara bertubi-tubi melalui tulisan di koran (media yang paling tren saat itu), Allahuakbar! sedikitpun Buya Hamka tak gentar, fokus Buya tak teralihkan, beliau terlalu mencintai Allah dan saudara muslimya, sehingga serangan yang mencoba untuk menyudutkan dirinya tak beliau hiraukan, Buya Hamka yakin jika kita menolong agama Allah, maka Allah pasti menolong kita. Pasti!
Oh! Buya Hamka terlalu kuat dan tak bisa dijatuhkan dengan serangan pembunuhan karakter melalui media cetak yang diasuh oleh Pram, tak sungkan-sungkan lagi, Soekarno langsung menjebloskan ulama besar tersebut ke penjara tanpa melewati persidangan.
Seperti doa nabi Yusuf as. ketika dipenjara: Yusuf berkata, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf, 33)
Yah! Saat itu penjara jauh lebih baik bagi Buya Hamka, jauh lebih baik daripada menyerahkan kepatuhannya terhadap Allah kepada orang-orang yang hanya mengejar dunia.
2 tahun 4 bulan di dalam penjara tak beliau sia-siakan dengan bersedih, malah Buya Hamka bersyukur telah dipenjara oleh penguasa pada masa itu, karena di dalam penjara tersebut beliau memiliki lebih banyak waktu untuk menyelesaikan cita-citanya, merampungkan tafsir Al-Qur’an 30 juz, yang sekarang lebih kita kenal dengan nama kitab tafsir Al-Azhar.
Lalu bagaimana dengan ketiga tokoh tadi?
Ternyata Allah masih sayang kepada Pramoedya, M. Yamin dan Soekarno. Karena apa yang telah dilakukan oleh ketiga tokoh bangsa tersebut terhadap Buya Hamka, tak harus diselesaikan di akhirat, Allah telah mengizinkan permasalahan tersebut untuk diselesaikan di dunia saja.
Di usia senjanya, Pramoedya akhirnya mengakui kesalahannya dimasa lalu dan dengan rendah hati bersedia “meminta maaf” kepada Buya Hamka, ya! Pramoedya mengirim putri sulungnya kepada Buya Hamka untuk belajar agama dan men-syahadat-kan calon menantunya.
Apakah Buya Hamka menolak? Tidak! Dengan lapang dada Buya Hamka mau mengajarkan ilmu agama kepada anak beserta calon menantu Pramoedya, tanpa sedikitpun pernah mengungkit kesalahan yang pernah dilakukan oleh -salahsatu penulis terhebat yang pernah dimiliki indonesia- tersebut terhadap dirinya. Allahuakbar! Begitu pemaafnya Buya Hamka.
Ketika M. Yamin sakit keras dan merasa takkan lama lagi berada di dunia ini, beliau meminta orang terdekatnya untuk memanggilkan Buya Hamka. Saat Buya Hamka telah berada di sampingya, dengan kerendahan hati M. Yamin (memohon maaf dengan) meminta kepada Buya Hamka agar sudi mengantarkan jenazahnya untuk dikebumikan di kampung halaman yang telah lama tak dikunjungi Talawi, dan di kesempatan nafas terakhirnya M. Yamin minta agar Buya sendiri yang menuntunnya untuk mengucapkan kalimat-kalimat tauhid.
Apakah Buya Hamka menolak? Tidak! Buya Hamka menuluskan semua permintaan tersebut, Buya Hamka yang “menjaga” jenazah -tokoh pemersatu bangsa- tersebut sampai selesai dikebumikan dikampung halamannya sendiri.
Namun, lain hal dengan Soekarno, malah Buya Hamka sangat merindukan proklamator bangsa Indonesia tersebut, Buya Hamka ingin berterima kasih telah diberi “hadiah penjara” oleh Bung Karno, yang dengan hadiah tersebut Buya memiliki lebih banyak waktu untuk menyelesaikan tafsir Al-Azharnya yang terkenal, dengan hadiah tersebut perjalanan ujian hidup Buya menjadi semakin berliku namun indah, Buya Hamka ingin berterima kasih untuk itu semua.
Lalu kemana Soekarno? Kemana teman seperjuangannya dalam memerdekakan bangsa ini menghilang? Dalam hati Buya Hamka sangat rindu ingin bertemu lagi dengan -singa podium- tersebut. Tak ada marah, tak ada dendam, hanya satu kata “rindu”.
Hari itu 16 Juni 1970, ajudan presiden Soeharto datang kerumah Buya, membawa secarik kertas, kertas yang tak biasa, kertas yang bertuliskan kalimat pendek namun membawa kebahagian yang besar ke dada sang ulama besar, pesan tersebut dari Soekarno, orang yang belakangan sangat beliau rindukan, dengan seksama Buya Hamka membaca pesan tersebut:
“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.”
Buya Hamka bertanya kepada sang ajudan “Dimana? Dimana beliau sekarang?” Dengan pelan dijawab oleh pengantar pesan “Bapak Soekarno telah wafat di RSPAD, jenazahnya sedang dibawa ke Wisma Yoso.”
Mata sayu Buya Hamka mulai berkaca, kerinduan itu, rasa ingin bertemu itu, harus berhadapan dengan tubuh kaku, tak ada lagi pertemuan yang diharapkan, tak ada lagi cengkrama tawa dimasa tua yang dirindukan, hanya hamparan samudera maaf untuk saudaranya, mantan pemimpinnya, pemberian maaf karena telah mempenjarakan beliau serta untaian lembut doa dari hati yang ikhlas agar Bung Karno selamat di akhirat, hadiah khusus dari jiwa yang paling lembut sang ulama besar, Buya Hamka.
Dizaman sekarang, Mulai terasa sejarah itu kembali terulang, dimana para penguasa mulai berusaha menyudutkan para ulama, menyerang para ulama melalui media-media pendukung mereka, menebar kebencian kepada para ulama melalui penulis-penulis pendukung mereka.
Lalu ada yang berkata, “ulama sekarang tak sehebat buya Hamka.” Tanya lagi hati kecil kita, apakah mereka yang tak hebat, ataukah kita yang ingin menolak pesan kebenaran itu sendiri.
Pertanyaannya:
– Di pihak siapa kita?
apakah di pihak para penguasa yang jelas sedang memuaskan nafsu duniawi mereka?
Ataukah di pihak para ulama yang menyampaikan kebenaran karena Allah, Tuhannya, Tuhan kita semua?
– Akankah para penguasa yang memfitnah para ulama saat ini, diberi kesempatan oleh Allah untuk meminta maaf sebelum ajal menjemput mereka? Semoga saja, semoga kesalahan mereka tak harus diselesaikan yaumul hisab. Aamiin ya Robbal’alamin